Baker Kim

Saat ini saya bersama suami senang sekali nonton serial korea “Bread, Love and Dreams” di salah satu TV swasta atau dikenal juga dengan nama “Baker king, Kim tak goo. Ini adalah satu2nya sinetron di TV yg saya tonton. Serial ini bercerita tentang kegigihan Kim tak goo dalam belajar membuat roti. Kegigihannya dalam belajar membuat roti buat mendapatkan uang guna memasang iklan untuk mencari ibunya yang hilang selain untuk dapat bertemu dengan kekasih masa kecilnya.

Disini saya belajar bagaimana kelembaban sangat berpengaruh dalam fermentasi. Paling tidak saya tau mengapa kadang2 donat yg saya buat kadang2 bantat/tdk mengembang dgn baik :) , dan mengapa pula fermentasi donat ketika saya buat di Australia selalu gagal. Selain bumbu2 utama sebuah sinetron yang berkisar tentang cinta dan perselingkuhan, tapi tokoh jahatnya masih manusiawi tidak seperti sinetron Indonesia. Tidak ada mata2 yg melotot dan dahi berkerut untuk menunjukkan karakter jahat. Tidak ada kelicikan2 yg luar biasa dan tidak mendidik dari aktor antagonis. Tokoh antagonis pada sinetron korea masih mempunyai belas kasihan pada protogonis nya. Sungguh sebuah pemandangan yg sangat tidak pernah kita jumpai di Indonesia yg berpegang teguh pada kemanusiaan yang adil dan beradab.

Selain serial ini, saya mencoba kilas balik ke sinetron korea pada tahun 2003 “Jewel in the Palace”. Serial ini berdasarkan sejarah dinasti josean yg menceritakan dokter perempuan pertama pada jaman itu yang bernama “Jan Geum”. Pada serial ini saya mendapatkan ilmu masak memasak dan obat tradisional ala Korea. Sungguh menarik khan? Dari sejarah dan tema seperti tukang roti dapat menjadi serial yg menarik dan mendidik. Kapan yah tema sinetron indonesia bersifat mendidik bukan hanya sekedar tentang perselingkuhan, putri yg tertukar, perebutan harta, abuse antar sesama siksa menyiksa yg  yg endingnya udah bisa kita ketahui. Padahal mungkin kita bisa meniru tema sinetron Korea dengan menceritakan kisah kegigihan seorang TKW sampai bisa S2, perjuangan seorang tukang jamu gendong, atau penjual kerupuk. Malaysia aja bisa mengemas cerita Upin dan Ipin dengan tema sederhana tapi enak di tonton, kenapa Indonesia tidak????

You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Baker Kim”

  1. Ristaniar says:

    iya …setuju !
    knpa indonesia yg menurut saia punya ribuan ank bangsa yg kreatif belum brani menghasilkan SINETRON yg inspiratif dan lbh mendidik seperti korea atw tetangga tercinta kita malysia…

    salam kenal mb ,, ^_^

  2. andini says:

    iya nih…soalnya prihatin liat keponakan perempuan yg masih sd senengnya liat sinetron indonesia yg ga mutu bgt..takut ketularan n gak mendidik…salam kenal juga mbak :)

Leave a Reply